anakku tidak harus jadi juara


Sebagai seorang pendidik saya terkadang merasa terusik dengan tingkah polah orang tua murid dan sejumlah sekolah dan para pendidik yang lain yang selalu memberikan pemahaman “ Nak , Kamu harus jadi juara! ”, “jadilah nomer satu!”, Jadilah yang terbaik !”. Bagi saya pemahaman seperti ini adalah sebuah racun yang dicekokan kedalam mulut anak anak kita oleh orang tua, dan para pendidik yang berpaham ini. Ini adalah paham yang menyesatkan serta akan menghancurkan kemandirian serta kematangan berpikir anak-anak kita. Bagaimana mungkin ? mungkin saja.
Di dalam agam Islam saya belum pernah mendapati perintah untuk mendidik anak-anak kita untuk menjadi juara untuk urusan dunia. Sepanjang pengetahuan saya yang dangkal dari agama ini, yang saya dapati adalah perintah untuk berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Saya bukan seorang ustadz akan tetapi tentulah tidak salah kalau saya menyandarkan pemikiran saya kepada Al- qur’an dan sunnah. Marilah kita tengok sejenak apakah anak kita harus menjadi seorang juara, juara-juara panggung perlombaan dunia yang kebanyakan orang memimpikanya sampai – sampai mengorbankan hidup mereka untuk meraihnya.
Setiap hari saya bergaul dengan anak-anak. Sedikit banyak saya memperhatikan keseharian mereka di sekolah. Mereka sebenarnya sangat menikmati dunia mereka didalam menuntut ilmu. Dengan tanpa terbebani mereka berangkat ke sekolah setiap pagi. Suatu hari, mereka membaca sebuah pengumuman tentang akan adanya perlombaan untuk berbagai bidang pelajaran yang dilaksanakan oleh UPTD terdekat. Kepala sekolah dan sebagian guru dengan antusias memilih siapa yang akan ikut lomba. Begitu terpilih, bergembiralah anak- anak tersebut nampak dari luarnya. Tapi saya tidak tahu apa yang ada di hati mereka. Sudah tentu yang lebih bergembira adalah orang tua dari anak-anak peserta lomba tadi. Setelah mengikuti latihan akhirnya berlombalah mereka dihari yang ditentukan. Dengan harap-harap cemas orang tua dan para guru menunggu serta berdoa agar anak-anaknya bisa menjadi juara.
Namun apa daya anak-anak itu gagal. Hanya seorang yang mendapat juara tetapi tidak juara I. walaupun bukan juara pertama tapi cukup mengobati rasa lelah selama ini bagi para guru dan orang tua murid.  Si anak juga terlihat gembira. Tapi benarkah para guru dan orang tua telah menciptakan seorang juara. Padahal juara itu hanya 1 dibanding sekian ratus orang. Kemana siswa yang lain. Apakah mereka bukan para juara. Sungguh sedih buat mereka yang tidak mendapatkan kesempatan berlomba. Ini adalah keadaan sebenarnya yang harus dipikirkan oleh sekolah dan para pendidik. Bahwa tujuan utama pendidikan bukan untuk menciptkan juara. Bukankah bang Iwan juga punya lagu tentang juara yaitu Juara Huh huh juara hah hah hah . Sungguh malang nasibmu sang juara.
Juara sesungguhnya bukanlah juara- juara dari perlombaan dunia. Ada sekolah yang berslogan “ sekolahnya para juara” itu adalah kebohongan besar. Tidak mungkin sekolah berjumlah murid 200 orang adalah juara semua. Yah begitulah mereka sudah tertipu dengan perlombaan-perlombaan dunia. Sampai mereka rela melakukan segala cara agar anak-anak mereka menjadi juara.
Untuk apa kita menjadi juara, tanamkan ini pada anak-anak kita. Untuk sanjungan, pujian, kehormatan, uang, atau untuk sekedar memuaskan ego serta perasaan diri lebih dari orang lain. Jika demikian yang diharapkan dari menjadi juara telah gagalah para pendidik dan orang tua. Semua harapan dari manusia untuk menyanjung kita tidak ada manfaatnya jika kita melupakan Alloh ‘azza wa Jalla.
Ada hal yang lebih penting untuk ditanamkan kedalam jiwa anak-anak kita. Sebagai seorang muslim mari kita berpegang kepada kitabulloh dan sunnah. Alloh ‘azza wa Jalla memerintahkan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan setiap saat. Bukan lomba untuk urusan didunia atau diatas panggung yang hanya mengharapkan umpan balik dari manusia. Pengharapan hanya kepada Alloh ‘azza wa Jalla. Sudahkah kita tanamkan kepada anak-anak kita untuk melakukan kebaikan setiap hari baik sendiri ataupun beramai-ramai yang hanya mengharapkan pahala dari Ar-Rahman. Tidaklah saya tulis ini kecuali saya ingin kebaikan ada pada diri anda dan anak-anak anda. Kita tidak perlu memotivasi anak-anak kita untuk selalu menjadi juara, menjadi yang nomor satu tetapi doronglah mereka untuk senantiasa siap berlomba-lomba dalam kebaikan dengan ikhlas mengharapkan pahala dari Ar-Rohiim.
Ingatkah anda kisah nabi Musa Alaihissalam? Ketika itu dia menolong dua orang wanita yang sedang mengambil air untuk minum ternak mereka. Akhirnya wanita tersebut meminta kepada ayahnya Su’aib Alaihissalam untuk bekerja pada mereka. Ada dua hal yang dimiliki oleh Musa Alaihissalam, yaitu dia seorang yang Qowiyyudan Amiin. Yaitu orang yang kuat dan terpercaya.  Dua hal inilah yang harus kita semai ke dalam jiwa anak- anak kita. Anak kita harus kuat imannya, fisiknya, mentalnya serta kecerdasanya. Tidak kalah penting untuk menjadikan mereka orang-orang yang amanah yang hanya mengharap pahala dari Alloh ‘azza wa Jalla. Bukan mempersiapkan anak kita untuk menjadi juara-juara perlombaan yang mengharapkan pujian dari manusia.
Sebagai penutup, persiapkanlah anak-anak kita untuk mengikuti perlombaan melakukan kebaikan karena Alloh ‘azza wa Jalla. Karena perlombaan itu ada setiap saat dan dimana tempat. Serta didiklah anak –anak kita untuk menjadi orang yang kuat dan amanah. Contoh yang amanah adalah nabi Muhammad Alaihissolaatu wa salam. Insyaalloh anak-anak kita akan menjadi juara-juara sejati, karena setiap hari dia selalu berlomba untuk melakukan kebaikan, meskipun mereka tidak mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia.


  

0 Response to "anakku tidak harus jadi juara "

Posting Komentar

Sponsor

Sponsor

pop

all posts